Jumat, 20 Mei 2011

LAMBAGA DAN KOSMOLOGI BAHASA SUNDA


Pembukaan
            Sunda Wiwitan (Bahasa Sunda: "Sunda permulaan", "Sunda sejati", atau "Sunda asli") adalah agama atau kepercayaan pemujaan terhadap kekuatan alam dan arwah leluhur (animisme dan dinamisme) yang dianut oleh masyarakat tradisional Sunda. Penganut ajaran ini dapat ditemukan di beberapa desa di provinsi Banten dan Jawa Barat, seperti di Kanekes, Lebak, Banten; Ciptagelar Kasepuhan Banten Kidul, Cisolok, Sukabumi; Kampung Naga; dan Cigugur, Kuningan. Menurut penganutnya, Sunda Wiwitan merupakan kepercayaan yang dianut sejak lama oleh orang Sunda sebelum datangnya ajaran Hindu dan Islam.
Berdasarkan keterangan kokolot (tetua) kampung Cikeusik, orang Kanekes bukanlah penganut Hindu atau Buddha, melainkan penganut animisme, yaitu kepercayaan yang memuja arwah nenek moyang. Hanya dalam perkembangannya kepercayaan orang Kanekes ini telah dimasuki oleh unsur-unsur ajaran Hindu, dan hingga batas tertentu, ajaran Islam. Dalam Carita Parahyangan kepercayaan ini disebut sebagai ajaran "Jatisunda"
Kosmologi menurut pengertian kamus bahasa sunda adalah ilmu yang menyelidiki asal-usul , struktur dan hubungan ruang waktu dari alam semesta. Secara khusus, ilmu ini berhubungan dengan asal mula dan evolusi dari suatu objek. Kata Kosmologi sendiri sebenarnya berasal dari kata “Kosmos” yang berarti susunan, tatanan, dan ketertiban. Dalam kosmologi manusia mencari struktur-struktur dan hukum-hukum yang paling umum dan mendalam dalam kenyataan duniawi sebenarnya.
Orang Sunda memiliki kosmologi dan kepercayaan tersendiri, kosmologi Sunda sudah meyakini adanya Sang Hyang Tunggal, yang menciptakan Alam Niskala dan Alam Sakala (sudah dijelaskan di atas). Memiliki sebuah Kosmologi dan akhirnya melahirkan sebuah kepercayaan bukan hal yang mudah, sehingga orang atau suku bangsa yang memiliki itu termasuk ke dalam suku bangsa yang memilki peradaban besar. Kebudayaan manusia sebenarnya sudah memiliki sebuah unsur-unsur yang universal. Orang atau suku bangsa yang berkebudayaan harus memiliki, yakni sistem religi, kemasyarakatan, pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian dan sistem peralatan hidup. Ketujuh unsur kebudayaan diatas jelas sudah dimiliki oleh orang-orang sunda. Pandangan yang ada dalam kitab jantiningrat dan orang-orang Baduy itu asli padangan orang Sunda tanpa dipengaruhi oleh pandangan dari luar, kalaupun ada kecil kemunginan pengaruhnya.

 
Isi Pembahasan

LAMBAGA
Lambaga adalah suatu hal yang diwajibkan oleh adat
Lambaga :
  1. Adat istiadat adalah satu pakem yang diwarskan secara turun temurun dari generasi ke generasi dan yakini betul keberadaannya, dan apabila orang melanggarnya akan dikenakan sangsi, baik dari masyarakat maupun sangsi atas keyakinan dari penguasa alam lain 
  2. Tradisi adalah kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh  masyarakat sunda yang sudah menjadi perilaku dalam kehidupan sehari-hari
  3. Keyakinan adalah kepercayaan yang sangat mendalam terhadap sesuatu yang berhubungan dengan hal – hal yang bersifat religi

Kepercayaan
a. Makhluk halus
Makhluk halus menurut orang sunda ( Prof.Dr. Edi s. Ekadjati. Masyarakat sunda dan kebudayaannya )
1.        Dedemit adalah makhluk halusyang menempati tempat-tempat tertentu seperti mata air, batu besar, dan pohon-pohon besar yang suka mengganggu dengan jalan memasuki badan manusia
2.        Jurig adalah sebangsa makhluk halus yang suka mengganggu anak-anak
3.        Ririwa adalah makhluk halus yang berasal dari roh orang yang baru meninggal, akibat kurang sempurna dalam menguburnya
4.        Budak hideung ( tuyul ) adalah sebangsa makhluk halus yang menyerupai anak-anak denag kulit berwarna hitam, ia tidak suka mengganggu manusia
5.        Siluman adalah makhluk halus yang mempunyai kebutuhan seperti manusia
b. Munjung
            Munjung adalah jalan pintas ynutk memperoleh kekayaan, macam-macam munjung antara lain :
  1. Munjung ke babi hutan ( bagong ) disebut nyegik
  2. Munjung ke ular disebut ngipri
  3. Munjung ke monyet disebut ngetek atau nyupang
v  Keyakinan orang sunda mengenai :
  1. Imah
  2. Jodo
  3. Makhluk gaib
  4. Karuhun
  5. Rezeki
  6. Mitologi

v Naktu
Naktu adalah keyakinan orang sunda mengenai itungan ( perhitungan ) untuk kebahagiaan dunia, akherat dan peliharaan.
Naktu di bagi menjadi beberapa bagian yaitu :
Naktu poe :
1.      Ahad              : 5
2.      Senen             : 4
3.      Salasa             : 3
4.      Rebo              : 7
5.      Kemis             : 8
6.      Jumaah           : 6
7.      Saptu              : 9
 Naktu bulan         :
1.      Muharam                     : 7
2.      Safar                            : 2
3.      Maulud                        : 3
4.      Silih mulud                  : 5
5.      Jumadil awal               : 6
6.      Jumadil akhir               : 1
7.      Rajab                           : 2
8.      Rewah                         : 4
9.      Puasa                           : 5
10.   syawal                        : 7
11.   hapit                           : 1
12.   rayagung                    : 3
Naktu tahun :
1.      Alip                 : 1
2.      He                   : 5
3.      Jim                   : 3
4.      Je                     : 7
5.      Dal                  : 4
6.      Be                    : 2
7.      Wau                 : 6
8.      Jim akhir          : 3
Pasaran poe :
1.      Manis              : 5
2.      Pahing             : 9
3.      Pon                  : 7
4.      Kaliwon          : 8
5.      Wage               : 4
Patokan kahirupan :
1.      Sri                    : alus
2.      Lungguh          : plin plan
3.      Dunya             : beunghar
4.      Lara                 : susah
5.      Pati                  : deukeut kana picilakaeun
Nama orang diambil dari :
a.       Ha                   : 1
b.      Na                   : 2
c.       Ca                    : 3
d.      Ra                    : 4
e.       Ka                   : 5
f.       Da                   : 6
g.      Ta                    : 7
h.      Sa                    : 8
i.        Wa                   : 9
j.        La                    : 10
k.      Pa                    : 11
l.        Ja                     : 12
m.    Ya                   : 13
n.      Nya                 : 14
o.      Ma                   : 15
p.      Ga                   : 16
q.      Ba                    : 17
r.        Nga                 : 18

Lambang lahir ( arti lahir ) :
1.      Senen : kembang                    : mudah dikenal
2.      Salasa : seuneu                       : gede ambek
3.      Rebo    : daun                         : ngiuhan
4.      Kemis : angin                                     : teu boga pendirian
5.      Jum’at : cai                              : nyieun kasuburan
6.      Sabtu   : bumi                          : membumi
7.      Ahad   : mega                          : luhur
Nami dinten dina kalender sunda:
senen                  :  soma
salasa                 : anggara
rebo                    : buda
kemis                : respati
jumaah               : sukra
saptu                  : tumpek
ahad                   : radite

Peliharaan :
Otek                      : loba nu ngutak-ngatik
Obel                      : sok aya nu maling
Jandra                    : jadi
Iwa                        : jadi lauk pauk ( didahar )





v Larangan bulan 
Larangan bulan adalah hari-hari yang tidak boleh melakukan kegiatan yang sifatnya : membeli, menanam, beternak.
v  Kala
Kala adalah arah yang berdasarkan arah angin dan tidak boleh dijelajah.

Tempat kala :
1.      Ahad         : kala di sebelah timur lurus
2.      Senen        : kala di sebelah barat lurus
3.      Salasa        : kala di sebelah barat miring
4.      Rebo          : kala di sebelah barat laut
5.      Kemis        : kala di sebelah timur miring
6.      Jumaah      : kala di sebelah barat daya
7.      Sabtu         : kala di sebelah timur lurus


Kosmologi sunda
               kosmologi sunda berasal dari kata kosmos yang artinya susunan, tatanan, ketertiban. Kosmologi berarti ilmu pengetahuan tentang dunia atau tata alam semesta, satu catatan penting kosmologi termasuk ilmu filsafat. Menurut anton baker ( dalam jakob soemardjo ), dalam kosmologi manusia bertanya : dunia ini apa? Materi itu apa? Ruang dan waktu itu apa? Penyebab atau kausalitas itu apa? Pertanyaan-pertanyaan itu memancing atau mendorong manusia memikirkan dunia sebagai suatu keseluruhan menurut dasarnya, menurut intinya dan tempatnya dalam keseluruhan.
               kosmologi sunda membicrakan tata dunia menurut pandangan  masyarakat sunda, karena masyarakat sunda itu berubah sepanjang sejarah keberadaanya, maka pandanagn dunianya juga berubah-ubah. Dengan demikian terdapat berbagai kosmologi sunda sesuai dengan perubahan masyarakatnya.
            Menurut Edi S. Ekadjati didalam Islam jagat raya terdiri dari 5 alam, yaitu alam roh, alam rahim, alam dunia, alam barzah, dan alam akhirat. Kosmologi menurut konsep Islam didasarkan pada kronologis kehidupan manusia (dan makhluk lainnya). Sedangkan Naskah Kosmologi Sunda membagi menjadi 3 alam, yaitu bumi sangkala (dunia nyata), buana niskala (alam gaib), dan buana jatiniskala (dunia atau alam kemahagaiban sejati).
Bumi sangkala, alam nyata di dunia tempat kehidupan makhluk yang me miliki jasmani (raga) dan rohani (jiwa), yakni manusia, hewan, tumbuhan, dan benda lain yang dapat dilihat baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Buana niskala, alam gaib tempat tinggal makhluk gaib yang wujudnya hanya tergambar dalam imajinasi manusia, seperti dewa-dewi, bidadara-bidadari, apsara-apsari, dll. Jumlah dan ragam makhluk tersebut banyak dan bisa bergabung satu dengan lainnya serta berkedudukan lebih tinggi dari manusia. Buana niskala, merupakan katalain dari surga dan neraka”.
Kosmologi Sunda membicarakan tata dunia menurut pandangan masya­rakat Sunda. Karena masyarakat Sunda itu berubah sepanjang sejarah keberadaann ya, make pandangan dunianya juga berubah-rubah. Dengan demikian terdapat berbagai kosmologi Sunda sesuai dengan perubahan masyarakatnya. Tetapi perubahan itu dapat dijelaskan penyebabnya atau difahami kausalitasnya, sebab perubahan adalah sesuatu menja­di sesuatu yang lain dari sesuatu itu sendiri. Sunda menjadi Sunda yang baru deri kesundaan itu sendiri. dengan demikian perlu dicari pengetahuan kosmologi sunda yang diduga monjadi kosmologi awalnya.
Naskah Kosmologi Sunda merupakan sebuah cerminan atau gambaran manusia penghuni dan tingkat kegaiban dari masing-masing alam. Digambarkan pula kedudukan masing-masing, baik makrokosmos (yang berhubungan dengan masalah Sang Hyang Tunggal/ jatiniskala) yang menciptakan batas, tetapi tidak terkena batas, maupun penghuninya yang disebut bumi niskala. Namun naskah tersebut tidak mengungkapkan adanya alam yang dihuni oleh roh manusia sebelum lahir ke alam dunia (bumi sakala).
Jatiniskala ini merupakan ruang dn waktu zat yang tunggal, Jatiniskala menjadikan dirinya Sang Hyang Tunggal yang dikenal manusia selama ini. Sang Hyang Tunggl “Menjelma keluar dari ketiadaan” bersama munculnya tekad, ucapan dan tenaga dari ketiadaan.
Teks buhun umumnya mengabarkan perihal cita-cita urang sunda buhun jika meninggalkan alam dunya, yakni “balik ka Hiyang, lain ka Dewa”. Namun yang menentukan tempat seseorang sesudah kematian adalah sikap, perilaku, dan perbuatannya selama ia hidup di dunia. Jika sikap, perilaku, dan perbuatannya buruk dan bertentangan dengan ajaran agama, maka akan kembali lagi ke alam dunia dalam wujud yang lebih rendah derajatnya (kepercayaan reinkarnasi) atau masuk ke dalam siksa neraka. Jika sikap, perilaku, dan perbuatannya baik ia (rohnya) akan naik menuju alam niskala yang menyenangkan (surga). Mungkin masalah ini lebih jelas diuraikan didalam Naskah Sewakadarma, sebagaimana yang dijelaskan Ayatrohaedi. Pada intinya menguraikan cara persiapan menghadapi maut dengan cara yang indah, serta bagaimana ketika jiwa setelah meninggalkan raganya.
Lebih jauh Edi S. Ekadjati menjelaskan tentang makna Kosmologi Sunda yang terkandung dalam naskah, bahwa : konsep kosmologi Sunda Kuna bukan hanya dimaksudkan untuk pengetahuan semata-mata mengenai struktur jagat raya, melainkan lebih ditujukan sebagai media agar kehidupan manusia jelas tujuan akhirnya, yaitu kebahagiaan dan ketenteraman hidup di buana niskala dan buana jatiniskala yang abadi.
Kosmologi Masyarakat Sunda
 Dalam Kosmologi dikisahkan, munculnya keberadaan ini pada awalnya sebelum apa yang disebut ada adalah tidak ada. Kosmologi Sunda menyebutkan tidak ada itu sebagai awing-awang uwung-uwungan. Itulah kosong yang mutlak. Sedangkan dalam bahasa sunda yang kita kenal sekarang adalah Ayana Aya, Ayana Euweuh. Euweuh teh Aya, Aya teh Euweuh ). Suatu pernyataan yang seolah-olah tanpa makna dan arti. Kita tidak banyak tau apa arti dari pada “tida ada itu” atau kosong mutlak tersebut. Carl Gustav Jung, menjelaskan paradoks Sunda ini, “Saya mulai dengan kekosongan, kehampaan”. Kosong yang dimaksud disini sama dengan kepenuhan. Kekosongan adalah kedua hal tersebut, kosong dan penuh. Sesuatu hal yang tidak terbatas dan abadi tidak membawa sifat, karena dia memiliki semua sifat.
Kekososngan yang dimaksud dalam kosmologi masyarakat Baduy muncul keluar dari tiga batara, yaitu Batara Keresa, Batara Kawasa, dan Batara Bima Maha Karana. Ketiga Batara ini sebenarnya menyatu atau satu yang disebut Sang Hyang Tunggal.
Keresa adalah kehendak, rasa dan nurani. Kawasa adalah kekuasaan, kekuatan dan tenaga. Mha karana adalah penyebab utama yang berarti ucapan, pikiran dan kata-kata. Dengan demikian Sang Hyang Tunggal adalah entitas tunggal dari entitas sebelumnya, meloncat keluar dari tidak ada menjadi ada. Itulah awal mula terjadinya segala sesuatu ini atau munculnya  bumi sangkala dan buana niskala.

Hakikat Kosmologi Sunda
            Keberadaan yang tidak mungkin didekati oleh manusia adalah alam kekosongan, yang dalam kitab jatiraga disebut alam ketiadaan yang ditempati oleh Sang Hyang Tunggal. Dalam Kosmologi sunda selain kehendak secara serentak juga bereksisteni pikiran ( Ucapan, logos) dan tenaga (kekuata, kawasa, kuasa, perbuatan lahir). Ketiganya ini menyatau atau ada dalam Sang Hyang Tunggal. Penataan dunia Sunda dimulai dari munculnya keberadaan empirik yang pertama yaitu munculnya Sang Hyang Tungga. Karena Sang Hyang Tunggal ini muncul dari tiga kemampuan atau potensi, yakni Keresa, Kawasa dan Karana (kehendak, kuasa dan sebab). Maka sekarang mucul sebuah pertanyaa bagaiman sistem hubungan ketiganya itu yaitu, hokum sebab akibat atau kausalitas.
Sebagian orang menggap bahwa apa yang ada sekarang ini hanya merupakan sebuah kebetulan saja, sebab awalnya adalah karena kebetulan atau hukum alam, tidak ada yang menciptakan atau mengendalikan. Apakah itu semua dibenarkan dalam kosmologi sunda? Sebelumnya telah dibahasa bahwa dalam kosmologi sunda mengenal adanya awing-awang uwung-uwung (kosong) yang di dalamnya ada kehendak, pikiran dan kekuata ketiganya ini ada dalam satu kesatuan yaitu Sang Hyang Tunggal. Dalam kitab jatirasa sendiri mengenal adanya Alam Jati Niskala (Sang Hyang Tunggal/Si Ijuna Jati), Alam Niskala (Alam Kedewaan) dan alam sakala (Alam manusia).
Dari keterangan yang sudah dijelaskan diatas ini jelas bahwa dunia ini muncul dari sebuah kekosongan, kosong ini muncul karena dirinya, kemudian dia mengadakan alam Niskala dan alam Sakala. Ini semua menandakan bahwa apa yang ada, dimunculkan atau berasal dari sebuah kekosongan (tidak ada) dan kekosongan itu sendiri sebenarnya yang benar-benar ada (mutlak keberadaanya).

 

Penutup

Keberadaan yang tidak mungkin didekati oleh manusia adalah alam kekosongan, yang dalam kitab jatiraga disebut alam ketiadaan yang ditempati oleh Sang Hyang Tunggal. Dalam Kosmologi sunda selain kehendak secara serentak juga bereksisteni pikiran ( Ucapan, logos) dan tenaga (kekuata, kawasa, kuasa, perbuatan lahir). Ketiganya ini menyatau atau ada dalam Sang Hyang Tunggal. Penataan dunia Sunda dimulai dari munculnya keberadaan empirik yang pertama yaitu munculnya Sang Hyang Tungga. Karena Sang Hyang Tunggal ini muncul dari tiga kemampuan atau potensi, yakni Keresa, Kawasa dan Karana (kehendak, kuasa dan sebab). Maka sekarang mucul sebuah pertanyaa bagaiman sistem hubungan ketiganya itu yaitu, hokum sebab akibat atau kausalitas.
Sebagian orang menggap bahwa apa yang ada sekarang ini hanya merupakan sebuah kebetulan saja, sebab awalnya adalah karena kebetulan atau hukum alam, tidak ada yang menciptakan atau mengendalikan. Apakah itu semua dibenarkan dalam kosmologi sunda? Sebelumnya telah dibahasa bahwa dalam kosmologi sunda mengenal adanya awing-awang uwung-uwung (kosong) yang di dalamnya ada kehendak, pikiran dan kekuata ketiganya ini ada dalam satu kesatuan yaitu Sang Hyang Tunggal. Dalam kitab jatirasa sendiri mengenal adanya Alam Jati Niskala (Sang Hyang Tunggal/Si Ijuna Jati), Alam Niskala (Alam Kedewaan) dan alam sakala (Alam manusia).
Dari keterangan yang sudah dijelaskan diatas ini jelas bahwa dunia ini muncul dari sebuah kekosongan, kosong ini muncul karena dirinya, kemudian dia mengadakan alam Niskala dan alam Sakala. Ini semua menandakan bahwa apa yang ada, dimunculkan atau berasal dari sebuah kekosongan (tidak ada) dan kekosongan itu sendiri sebenarnya yang benar-benar ada (mutlak keberadaanya).


 
Daftar Pustaka


2 komentar:

  1. Mohon ditinjau ulang, penyembah Sang Hyang Tunggal bukan penganut Animisme dan Dinamisme. Monghormati arwah leluhur adalah bagian dari kepercayaan kepada Sang Hyang Tunggal yg telah menciptakan leluhur dan kita semua, karena Sunda Wiwitan mengakui adanya Nabi Adam.
    Dalam pasaran "POE" seharusnya seperti berikut: Manis (Air), Pahing(Api), Pon(Angin), Wage(Tanah), Kliwon(Pancer/Diri Sendiri).
    Dalam pasaran "NAMA ORANG DIAMBIL DARI" seharunya diuraikan sbagai berikut,
    1. ha
    2. na
    3. ca
    4. ra
    5. ka
    6. da
    7. ta
    8. sa
    9. wa
    10. la
    11. pa
    12. DHA
    13. ja
    14. ya
    15. nya
    16. ma
    17. ga
    18. ba
    19. THA
    20. nga
    mohon dikoreksi, karena nilai dari setiap abjad tersebut sudah menjadi sebuah patokan dari sejak zaman dahulu.

    BalasHapus
  2. 12kalo di itungan saya DAH BUKAN DHA contoh nya idah i=1 dah=12 jadi idah=13
    19kalo di itungan saya TAH BUKAN THA contoh nya Miftah mif=16 Tah=19jadi Miftah=35
    🙏Mohon dikoreksi untuk bahan shering bukan menggurui tapi saling berbagi 🙏

    BalasHapus